14 October, 2010

Kadang-kadang di kala kita terlalu letih dan terasa sesaknya dada untuk menarik nafas, kita cuma punya air mata untuk meluahkan kepenatan itu lantaran sudah tidak terkatanya kita dengan lambakan kerja yang tidak tertanggung sebenarnya.


Terkejar ke sana dan ke mari kerana diulit dengan amanah dan tanggunggjawab sering membuatkan dahi kita berkerut seribu. Itu belum lagi kita memikirkan tentang orang-orang yang kadangkala terpaksa kita abaikan kerana kerja yang tidak pernah mengenal erti ihsan. Ditambah pula apabila orang-orang yang kita sayang tidak mengerti akan betapa jiwa kita sebenarnya mengharap pengertian pada sebuah lelah yang tidak terluah. Lebih menyakitkan, kita sering dikatakan orang yang mementingkan diri sendiri tanpa menghiraukan orang yang dekat di hati.

Tatkala memikirkan tentang lambakan kerja itu
Memikirkan tentang orang-orang yang menikam kita dari belakang
Menganiaya kita, mengutuk kita, menghina kita dan menyisihkan kita
Memikirkan tentang orang-orang yang terguris dek kesibukan kita
Memikirkan tentang diri sendiri yang terabai...

Sakit dada kita menahan semua itu
Sesak lagi jiwa kita menahan sendu
Lalu kita duduk sendirian
Seorang diri tanpa teman di sisi
pasti,
ada air jernih mengalir di pipi

Ia mengalir deras
malah mungkin kalah derasnya air di kali….

Akhirnya kita akur bahawa kita lemah
Kita perlukan Allah s.w.t untuk menguatkan kita
Lalu kita perlu terus-terusan berbicara (mengadu) kepada Nya
pada bicara itu tentu ada sendu
meluahkan segala yang terbuku di kalbu
walau Dia maha tahu
tapi kita tak pernah jemu
terus ingin berbicara dan mengadu
kerana kita sendiri pasti
pujukan-Nya selalu indah sekali.

Sesungguhnya Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud:

"Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan sehingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebahagian dari kesalahan-kesalahannya" (H.R al-Bukhari)

0 Comments:

Post a Comment