17 July, 2009

Sejak kebelakangan ini, saya cepat terkesan dengan pertanyaan dan kata-kata orang.

Sejak kebelakangan ini juga saya rasa hati dan perasaan saya tidak ‘sekebal’ dulu.

‘Ilmu kebal’ yang saya resapkan di hati saya semakin hari-semakin hilang kuasanya.

Mengapa agaknya?
Saya sendiri tidak pasti.

Mungkinkah kerana saya terlalu risau menghitung usia saya. Semakin hari semakin tua…

Entahlah, saya jadi kurang tumpuan dan fokus. Saya lebih dikurung dengan perasaan murung. Walau pada wajah saya tidak mencerminkan perasaan itu, tetapi hati saya tidak mampu menipu.

Mungkin sebab itu juga saya kurang menulis di blog sejak akhir-akhir ini. Saya kehilangan kata dan butir bicara. Seminggu ini, saya cuba ‘menyelesakan’ jiwa saya di setiap kuliah yang saya masuki. Dan saya tahu, jiwa saya tidak sama seperti semester yang lepas. Jiwa saya lambat mengenal dan beramah-mesra dengan suasana kuliah dan subjek.

Semenjak pulang ke UKM….jiwa dan fikiran saya terganggu.

Lama saya bermenung.
Lama saya merenung.
Lama juga saya bermurung.

Tiba-tiba saya teringatkan Nabi Zakariyya a.s.
Subhanallah....Syahdunya jiwa saya. Saya menangis.

Saya pujuk hati ini. Saya pujuk dan belai ia dengan penuh lemah-lembut. Saya katakan padanya:

“Ingatlah Sakinah ketika Nabi Zakariyya berdoa:







Maksudnya:(yang dibacakan Ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria(2)Iaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut (3) Dia berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku (4) Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku[1] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera (5) Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah dia, Ya Tuhanku, seorang yang diredhai (6) (al-Quran, Maryam, 19:2-6)”

[1]yang dimaksud oleh Nabi Zakariyya dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya. Yang dikhawatirkan Nabi Zakariyya ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, Kerana tidak seorang pun di antara mereka yang dapat dipercayainya, oleh sebab itu dia meminta dianugerahi seorang anak.

Air jernih semakin deras mengalir jatuh ke pipi…

Saya pujuk lagi jiwa saya:

“Ingatlah Sakinah, ketika Nabi Zakariyya berdoa:



Maksudnya: Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (al-Quran, Ali-Imran 3:38)”

Sakinah, seorang Nabi juga diuji dengan sukarnya mempunyai cahaya mata. Inikan pula dirimu seorang insan biasa dan tidak pula ma’sum. Nabi Zakariyya tidak pernah jemu berdo’a, Sakinah. Dia masih berdoa walau sudah menjadi lelaki tua yang begitu uzur bahkan isterinya itu pula seorang wanita yang mandul. Akhirnya doa itu diangkat oleh Allah s.w.t sehingga membuatkan Nabi Zakariyya sendiri bagai tidak percaya dengan takdir Allah s.w.t itu (disebut dalam al-Quran Surah Ali-Imran :39-41 dan surah Maryam: 7-11.) Lalu mengapa kau mesti berasa hidupmu begitu sunyi dan gelap, Sakinah? Sedangkan, usia pernikahanmu baru setengah dekad?

Usah berkecil hati dengan pertanyaan orang, Sakinah. Usah berjauh hati dengan kata-kata mereka.

Jika zuriat itu bukan rezeki di dalam pernikahanmu, tentu banyak lagi rezeki lain yang Allah berikan padamu. Maka jangan kau tutup matamu dari memandang rezeki yang lain itu. Ambillah rezeki itu dan pergunakan ia dengan sebaiknya untuk agamamu dan untuk bekal akhiratmu.

Senyumlah kerana kau sudah memiliki kembali ‘ilmu kebal’mu iaitu yakin dengan keindahan ujian Allah s.w.t dan hikmah di sebaliknya”

Saya melepaskan nafas dengan berat.

Subhanallah...

Saya mengerti bukan mudah menjadi manusia penuh bermotivasi. Manusia yang berjiwa kebal.

Bibir saya mengukir senyuman. Senyuman itu ada tangisan. Tangisan yang penuh dengan kesyukuran.

0 Comments:

Post a Comment